Mentis
Healthy Mind, Happy Life
Login
Product sudah berhasil ditambah ke cart.

»

#5 of 5 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Shopaholic / Compulsive Buying Disorder

Shopaholic/Compulsive Buying Disorder
oleh : dr. Aimee Nugroho

            Belanja adalah hal yang biasa dan semua orang tentu melakukannya. Namun bagaimana bila belanja berlebihan ?

            Orang awam menyebutnya shopaholic atau 'gila belanja'. Compulsive buying disorder (CBD) atau Oniomania (bahasa Yunani Onios = belanja dan mania= senang atau menyukai secara berlebihan ) ditandai dengan obsesi terhadap berbelanja dan perilaku membeli yang menimbulkan konsekuensi besar. Menurut Kellett dan Bolton (2009) definisi compulsive buying adalah urgensi atau keinginan yang tidak dapat ditahan dan tidak dapat dikendalikan, yang berakibat dalam aktivitas belanja yang berlebihan, menghabiskan banyak uang dan mengonsumsi waktu, seringkali segera dilakukan setelah mengalami perasaan negatif, yang berakibat kesulitan sosial, masalah personal dan masalah finansial

Banyak orang dengan CBD yang akhirnya memiliki hutang yang besar, sehingga setelah berbelanja, bukannya merasa membaik, malahan merasa semakin stres karena terlilit hutang tersebut. Kebahagiaan setelah memberi barang, akhirnya digantikan dengan perasaan bersalah, dan menyesal. Perasaan bersalah dan menyesal ini akhirnya malah memulai siklus berbelanja impulsif berikutnya. Seiring dengan hutang yang semakin menumpuk, kadang ada beberapa orang yang bahkan rela sembunyi-sembunyi berbelanja. Ada pula yang sesampai di rumah membuang atau menyembunyikan barang-barang yang dibeli karena merasa malu dengan perilaku berbelanjanya.

Konsekuensinya, seringkali akhirnya mereka memiliki masalah dalam pernikahannya dan masalah dalam pekerjaannya. Problem lainnya adalah hutang yang menumpuk dan masalah keuangan. Hal ini akhirnya dapat memicu cemas atau depresi.

            Banyak orang dengan CBD ternyata juga memenuhi kriteria diagnosis psikiatri lainnya seperti gangguan pengendalian impuls, gangguan obsesif kompulsi, gangguan bipolar fase manik, atau gangguan kepribadian borderline, gangguan penggunaan zat dan gangguan makan. Orang yang melakukan CBD sering mengalami kesulitan dalam memahami perasaannya dan memiliki toleransi yang rendah ketika berhadapan dengan masalah psikis seperti bad mood.

            Berbelanja sering kali digunakan untuk membuat seseorang bahagia. Hal ini bisa jadi merupakan suatu perilaku adaptif. Perilaku adaptif adalah suatu sikap perilaku yang digunakan individu untuk beradaptasi terhadap suatu keadaan situasi. Ada sebuah lelucon yang menyebutnya ‘retail therapy’ atau terapi belanja. Namun ibaratnya seperti pedang bermata dua, bisa menjadi perilaku adaptif dan memperbaiki keadaan seseorang, atau menjadi perilaku maladaptif dan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.

Emil Kraepelin adalah orang pertama yang mendeskripsikan oniomania lebih dari satu abad yang lalu. Kraepelin dan Bleuler memasukkan sindrom ini ke dalam buku psikiatri karangan mereka pada tahun 1924. CBD seringkali dimulai pada usia remaja akhir dan awal usia 20-an dan hal ini sering berlangsung lama.

            Apa penyebab CBD ? Orang yang shopaholic sering mengalami hubungan dengan orang tua yang kurang baik di masa kecil. Hubungan dengan orang tua merupakan keterikatan dasar seseorang (basic attachment), sehingga ketika basic attachment ini tidak terbentuk dengan baik, maka ia akan memindahkan basic attachment ini ke benda-benda untuk mengisi kekosongan dirinya. Paus Fransiskus dalam Laudato SI, 204 menuliskan “Ketika orang terpaku kepada dirinya maka keserakahan akan meningkat. Semakin kosong hati seseorang, semakin ia membutuhkan barang-barang untuk dibeli, dimiliki dan dikonsumsi.”

            Anak-anak yang diabaikan oleh orang tuanya sering tumbuh dengan kepercayaan diri yang rendah, karena selama masa kanaknya ia merasa tidak dihargai sebagai manusia dan mencari benda-benda lain sebagai substitusi atau pengganti rasa nyaman tersebut. Contohnya seperti mainan atau makanan sebagai kompensasi rasa kesepian. Mainan dan makanan sebagai substitusi perhatian dan kasih sayang. Orang dewasa yang bergantung kepada obyek material seringkali menjadi gila belanja karena ketika kanak-kanak ia merasa kekurangan sebagai seorang pribadi.

            Selain itu, orang yang memiliki kepribadian perfeksionis seringkali mudah menjadi terobsesi dan kompulsi membeli barang-barang. Orang dengan kepribadian yang impulsif juga dapat belanja berlebihan. Orang dengan gangguan cemas, depresi, dan pengendalian impuls yang buruk akan berusaha untuk memperbaiki gejala yang dialaminya dan meningkatkan rasa percaya diri mereka melalui berbelanja.

            Menurut perspektif psikologi sosial, belanja berlebihan berfungsi untuk membangun identitas seseorang. Seseorang berbelanja untuk validasi dirinya melalui membeli barang-baranag. Tanpa identitas jati diri yang kuat, maka nilai-nilai materialisme dan konsumerisme akan masuk ke dalam diri seseorang .

            Seringkali slogan ‘shop till we drop’ membuat rasa nyaman didapatkan dari rasa kepemilikan terhadap barang-barang. Dengan banyaknya iklan dan tawaran berbagai produk, maka masyarakat akhirnya bingung mana hal-hal primer mendasar yang dibutuhkan, dan mana hal-hal tersier yang sifatnya hanya tambahan. Dengan alasan ‘lifestyle’ atau gaya hidup, maka hal yang tersier pun akhirnya dianggap menjadi hal primer. Pertanyaannya, sampai dimana lalu batasan gaya hidup tersebut ?

Bagaimana cara mengatasinya ?
1. Sadari keadaan anda
2. Pembatasan kartu kredit. Tersedianya kartu kredit memberikan peluang bagi seseorang untuk berbelanja secara berlebihan melebihi kebutuhannya. Sehingga pada orang-orang dengan oniomania disarankan untuk ditarik kartu kreditnya.
3. Tanamkan di dalam pikiran bahwa “Apa yang anda butuhkan tidak sama dengan apa yang anda inginkan”. Pilah-pilah mana benda yang anda butuhkan, dan mana benda yang anda inginkan.
4. Bagi uang dalam amplop-amplop tersendiri. Contohnya amplop untuk uang sekolah anak, amplop untuk uang belanja, amplop uang cicilan, dsb.
5. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran di dalam buku kas.
6. Hindari pergi ke pusat perbelanjaan atau browsing online shop bila tidak perlu.
7. Hindari berhutang
8. Konsultasi ke psikiater, bila perlu maka psikiater akan memberikan obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) yang terbukti menurut penelitian dapat memperbaiki gejala obsesif kompulsif dan depresi yang sering didapatkan pada CBD.
9. Mengikuti terapi kelompok, seperti Debtor anonymous.

Demikianlah ulasan mengenai shopaholic

Search
Search:
Others
Product Scroller
Others
Others

© 2014 www.mentis.co.id


Toko Online