Mentis
Healthy Mind, Happy Life
Login

»

#1 of 3 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Kesepian, Sungguh Ada Ataukah Hanya Imajinasi ?

   

LONELINESS, IS IT TRULY THERE OR YOUR IMAGINATION?
Oleh : dr. Emmy Amalia

Kasus 1

Pengakuan Mia, janda 37 tahun: Sebelum Dendy meninggal, kami sangat menikmati hidup. Kami saling mencintai, karir berkembang, dan tak lama setelah menikah, saya mengandung. Tak pernah terbayang hal yang lebih membahagiakan lagi. Saya sedang mengandung 7 bulan saat akhirnya Dendy meninggal karena penyakit jantung yang tak kami sadari sebelumnya. Dia pergi begitu saja, berangkat tidur di malam hari dan tak pernah bangun lagi setelahnya. Setelah itu, saya melanjutkan hidup dan mengurus bayi kami. Untuk waktu yang lama, saya hanya menjalani hari demi hari. Pergi bekerja, kembali ke rumah, mengunci pintu kamar, dan akhirnya menangis semalaman. Saya merasa kesepian tapi saya hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Rumah itu masih berbau Dendy dan segala hal tentangnya. Saya terbiasa tidur di sisi yang Dendy tiduri dulu. Tetapi tidur juga bukan pengalaman yang menyenangkan karena saya menjadi teringat bahwa inilah tempat privat dimana kami bisa sendirian dan sekarang saya yang benar-benar sendiri. Saya mulai beberapa kali mengalami kondisi panik bahwa saya dapat tiba-tiba mati dan bayiku sendirian di dunia ini. Saya jadi terbiasa menyiapkan kebutuhan bayi lengkap untuk beberapa hari ke depan dan saya tidak dapat menahan diri untuk memanggil keluarga atau tetangga pada tengah malam. Pada akhirnya kondisi saya membaik, tetapi belum berakhir. Saya hanya selangkah lebih maju. Saya masih merasa kesepian dan akhir-akhir ini saya mulai khawatir jika terjadi apa-apa pada si bayi saat saya tidak di rumah.

Kasus 2

Pengakuan Dhani, perempuan 35 tahun, menikah: Saya tidak pernah merasa mempunyai teman dekat dan kadang saya berpikir apakah ini hal yang normal. Saya merasa ada yang salah, sepertinya semua orang punya kunci rahasia untuk membina pertemanan baik yang tidak saya miliki. Saya dapat bercakap-cakap dengan orang lain, tetapi saya tidak pernah benar-benar merasa terlibat. Suami saya mengatakan seperti ada tembok yang tak dapat ditembus dari diri saya, tetapi hal ini kan karena dulu saya pernah dibully cukup parah saat masih muda dan membuat kepercayaan diri saya rendah. Saat ini, saya mulai khawatir anak laki-laki saya berprilaku seperti saya dulu, berteman dari 1 orang ke yang lain tanpa benar-benar mempunyai teman dekat yang tetap. Lalu ia mencoba bergabung dengan beberapa kelompok, tapi mereka selalu meninggalkannya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk membantunya. Saya sendiri mempunyai masalah yang sama.

Kasus 3

Pengakuan Yan, pria 53 tahun, tidak menikah: saya hidup sendiri. Saya tidak melihatnya sebagai gaya hidup sih, hal ini terjadi begitu saja dalam kehidupan saya. Saya dapat melihat keuntungan hidup bersama pasangan dan saya dapat merasakan bahwa saya merindukan sesuatu: suatu kenyamanan emosional yang menyelimutimu saat kamu tiba di rumah. Kadang, saya merasa pasti ada yang salah dengan kepribadian saya karena saya tidak pernah mampu sampai pada tahap kehidupan yang saya rindukan tersebut. Pada akhirnya saya berhenti mencari kehidupan berkeluarga, tetapi saya lihat bergabung dengan komunitas masih bisa saya lakukan. Jadi saya mulai tinggal di rumah umum, menikmati duduk bersama untuk makan malam, dan kadang memasak untuk semua penghuni.



Loneliness atau kesepian pernah dialami hampir semua orang. Kesepian adalah pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan secara kualitas dan kuantitas akibat tidak adanya hubungan sosial yang bermakna. Jadi kesepian bukan disebabkan karena kesendirian (aloneness, solitude), tetapi lebih karena ketiadaan hubungan tertentu yang dibutuhkan. Sebagai makhluk sosial, pengalaman ini berusaha kita hindari karena kesepian mengingatkan kita akan perasaan nyeri dan kondisi terisolasi yang mengancam.

Kesepian umum dialami oleh 80% populasi berusia kurang dari dan sekitar 18 tahun serta 40% populasi berusia diatas 65 tahun. Berbeda dengan mitos selama ini bahwa kesepian pasti banyak dialami oleh orang tua, kenyataannya kesepian justru lebih banyak dialami remaja dan dewasa muda. Hal ini dikarenakan pada orang yang lebih tua mereka mempunyai kemampuan coping yang lebih baik dan matang dalam mengatasi rasa kesendiriannya; sementara pada remaja coping yang matur tersebut belum terbentuk. Masa remaja dan dewasa muda juga merupakan masa dimana menjadi diterima dan dicintai oleh lingkungan merupakan hal yang penting. Bagaimanapun, orang tua yang mengalami penyakit fisik, perpisahan dengan pasangan, dan disabilitas dilaporkan mengalami angka kesepian yang lebih tinggi. Apakah cukup sampai disini angka kejadian kesepian? Ternyata tidak sesederhana itu.

Apabila dikaitkan dengan kesepian setelah kematian pasangan hidup, perempuan memiliki tingkat kesepian yang lebih tinggi dibanding pria. Hal ini dikarenakan perempuan lebih mungkin mengakui dirinya kesepian dan lebih membutuhkan teman untuk berbagi pikiran dan pengalaman. Pria lebih banyak mengingkari kesepian yang dialaminya karena pria yang kesepian kurang dapat diterima secara sosial.

Merupakan hal yang tidak terelakkan bahwa kita semua dapat mengalami perasaan ini pada suatu masa dalam hidup, baik itu berupa perasaan ditinggalkan yang berlangsung sesaat, atau sensasi kurangnya rasa keintiman dengan relasi yang telah ada. Perubahan-perubahan dalam kehidupan (seperti hidup di kota baru, profesi baru, kehilangan anggota keluarga) dapat memicu timbulnya perasaan kesepian yang akut. Hal lain seperti jenis kelamin perempuan, hidup sendiri, proses menua, adanya penyakit fisik, kecukupan atau kekurangan materi, dan terbatasnya ‘sumber daya sosial’ yang dimiliki, juga merupakan faktor-faktor resiko untuk berkembangnya perasaan kesepian. Akan tetapi faktor waktulah yang menentukan seberapa berbahaya kondisi kesepian yang mungkin kita alami. Kesepian perlu mendapat perhatian serius saat ia berlangsung lama sehingga menjadi suatu kesatuan pikiran, perasaan, dan perilaku negatif yang merusak dan menetap. Dengan kata lain, kesepian yang berlangsung kronis menjatuhkan diri kita.

Sekali kesepian menjadi kronis, sulit untuk menyembuhkannya. Orang-orang yang secara kronis merasa kesepian dapat terjebak dalam suatu pusaran perilaku negatif, menolak orang lain yang berusaha masuk dalam kehidupannya, atau secara membabi buta mencari hubungan sesaat yang malah dapat membuatnya makin kesepian. Sekedar bergabung dengan komunitas tertentu untuk mendapat teman tidak menolong orang dengan perasaan kesepian yang kronis.

Nantikan serial loneliness selanjutnya, dalam tulisan yang berjudul :
(2) Bagaimana terjadinya perasaan kesepian?
(3) Loneliness and it’s influence to mental health, how to deal with it?

Search
Search:
Others
Product Scroller
Others
Others

© 2014 www.mentis.co.id


Toko Online