Mentis
Healthy Mind, Happy Life
Login
Product sudah berhasil ditambah ke cart.

»

#3 of 5 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Beda Bipolar dengan Gangguan Kepribadian Borderline

Beda Bipolar dengan Gangguan Kepribadian Borderline
Oleh : dr. Aimee Nugroho

"Saya didiagnosis menderita bipolar tipe 2 sekitar beberapa tahun  lalu. Namun karena gejala gangguan bipolar mirip dengan gangguan kepribadian borderline, maka sulit membedakannya. Yang terakhir ternyata saya didiagnosis dengan gangguan kepribadian borderline." - Maia (bukan nama sebenarnya), 35 tahun.

Gangguan kepribadian borderline seringkali disebut sebagai saudara dari bipolar ("bipolar's sister"). Seringkali terjadi diagnosis tumpang tindih diantara keduanya. Salah satu alasan diagnosis yang tumpang tindih ini adalah karena ada persamaan di antara kedua gangguan ini yaitu dalam hal regulasi pengendalian mood. Apa sebenarnya perbedaan antara gangguan bipolar dan gangguan kepribadian borderline ?   Berikut adalah perbedaan diantara Gangguan Bipolar dengan Gangguan Kepribadian Borderline :

1. BAGAIMANA DAN KAPAN GEJALA MOOD MULAI

Gangguan kepribadian borderline menunjukkan pola respon yang sulit dan inefektif serta kesulitan interaksi dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini sudah berkembang sejak remaja atau lebih awal. Gejala ini selalu ada karena merupakan ciri kepribadian dasar dari orang tersebut.

Sedangkan gangguan bipolar, termasuk gangguan bipolar tipe 2, merupakan suatu kondisi dimana pola emosi dan perilaku yang berubah dari keseharian pasien. Ini adalah suatu fitur diagnostik inti. Sebagai contoh di DSM 5 terdapat syarat adanya  episode hipomanik  sebagai "perubahan fungsi yang bukan merupakan karakteristik dari individu ketika tidak sedang menunjukkan gejala hipomanik"

2. WAKTU DAN POLA GEJALA MOOD

Orang yang hidup dengan gangguan kepribadian borderline berjuang mengatasi kesulitan pengendalian emosi. Mereka sering kali berespon berlebihan, bereaksi seperti sedang tersakiti hebat, dan penuh emosi terhadap suatu  masalah pencetus yang sebenarnya merupakan masalah kecil dan tidak perlu berespon sampai sebegitunya. Mereka berjuang lama mengatasi kemarahan, kesedihan, dan kecemasan, kadang dengan perilaku kemarahan yang meledak. Hal ini sering terjadi dalam kesehariannya, dan perubahan mood tersebut dapat berubah dari menit ke menit atau dari jam ke jam. Perubahan mood ini dapat dicetuskan oleh sesuatu, seperti rasa frustrasi, atau merasa ditolak, atau ketakutan akan ditinggalkan (fear of rejection and fear of abandonment).

Perubahan mood gangguan bipolar dapat terjadi dalam hitungan harian atau mingguan daripada menit ke jam. Hipomania atau mania dan gejala depresif adalah suatu perubahan dari keadaan pasien biasanya dan terjadi untuk periode waktu yang lebih lama. Episode manik atau depresif dapat dicetuskan oleh suatu peristiwa stresful, atau juga bisa tanpa pencetus.

3. TIPE GEJALA GANGGUAN MOOD

Gangguan mood pada ganggaun kepribadian borderline cenderung berupa perasaan iritabel, seperti  mudah tersinggung, rewel, mudah marah, sedih, merasa hampa, dan juga kecemasan. Perasaan tersebut terjadi dalam keseharian dan muncul sejak lama karena merupakan bagian dari kepribadiannya. Pada gangguan kepribadian borderline, euforia bukan merupakan syarat  diagnosis.

Untuk mendiagnosis gangguan bipolar, seseorang paling tidak harus memiliki 1 episode mania atau hipomania. Gejala mood pada gangguan bipolar - secara spesifik mania atau hipomania- hampir selalu terdapat periode euforia dan pikiran grandiose, sehingga tidak hanya berupa kemarahan seperti pada gangguan kepribadian borderline. Euforia adalah perasaan gembira berlebihan.  Ide pikiran grandiose adalah ketika seseorang merasa percaya diri berlebihan dan merasa dirinya hebat.

4. IMPULSIVITAS

Impulsivitas sering ditemukan pada gangguan kepribadian borderline dan merupakan bagian dari keseharian mereka. Impulsivitas ini menyebabkan ia sulit mengontrol dan mengendalikan sikap perilaku. Contohnya ia mudah sekali marah, dan melakukan tindak kekerasan kepada pasangan dan anak. Hal ini merupakan bagian dari tantangan hidup sehari-hari pada orang dengan gangguan kepribadian bordeline.

Pada gangguan bipolar, impulsivitas terjadi ketika seseorang dalam periode manik atau hipomanik. Gejala impulsivitas ini tidak terjadi sejak dulu, karena bukan merupakan sifat dasar dari orang tersebut. Bila memang orang tersebut biasanya impulsif, untuk bisa dikualifikasikan sebagai manik atau hipomanik maka gejala tersebut memburuk selama suatu periode waktu

MENGAPA SERING BINGUNG?

Bipolar tipe 2 sering berupa episode depresif yang berulang yang disertai periode gembira berlebihan (hipomania) diantaranya. Baik bipolar maupun gangguan kepribadian borderline, sama-sama sering ditemukan kesedihan dan perasaaan kosong seperti gejala depresi. Bedanya, pada gangguan kepribadian borderline kesedihan itu bersifat lama dan kronis.

DAPATKAH TERJADI SECARA BERSAMAAN ?

Orang dengan gangguan kepribadian borderline beresiko tinggi terkena gangguan depresi mayor dan gangguan cemas. Mereka juga dapat terkena gangguan bipolar, namun gejala tersebut harus nyata berbeda dari keseharian pasien agar bisa didiagnosis sebagai gangguan bipolar.

Demikianlah perbedaan gangguan bipolar dengan gangguan kepribadian borderline. Apabila anda mendapatkan diagnosis yang berbeda dari dokter anda, anda dapat berbicara dengan dokter anda dan menanyakan alasannya. Anda berhak mengerti diagnosis anda dan mendapatkan jawaban atas kebingungan anda.

 

 

Search
Search:
Others
Product Scroller
Others
Others

© 2014 www.mentis.co.id


Toko Online